Tissue tissue bertebar..
Cukup! cukup!
Dia hanya ingin berebah sebentar
Melerai batin yang letih
Melunakkan luka lebam
Sebentar..sebentar..
Biarkan dia memicing...
Tapi
Belum seinci bulu matanya terkatup
Suara gemerincing mendekat
Kaki kuda menyepak dan menyeretnya
Bercanda..bercanda!!
Pesta maya! pesta maya!
Tak tahu bahwa besi kuku kaki kuda memoncek mengelupas luka basahnya
Tak sadar bahwa kaki-kaku sang kuda menyeret dan menyandungnya tersaruk-saruk
Tak sadar bahwa degupnya mulai melirih
Raganya berganti nyawa...
Dia sudah disebuah lapang
Dijilatnya makademia
Menyadar dan menyandar..
Dia sudah dikirim seorang ibu
Tak tua matang senja
Ramah bersaut sapa..
Tanpa aba
Disibak lembut poninya
"Kau anakku"..tatapnya..
Oh, dia ketemu ibunya
"yaa, tapi kumau tusuk Obama"
Duh ibu..
Lusanya dia berkopi lagi dilapang berbeda
Disentuhnya perempuan berperut kanguru
Menggendong bayi
Berlari mengejar bayang dirinya dalam gulita gua
Kakinya berdarah..
Tapi nekad berkutat merakit sayap
Tertatih mengepak terbang ke langit
Menaik..menaik..
Luka darah kaki kawannya menetes di telungkup telapaknya
Semakin dia menguncupkan telapak tangannya
Agar memangkuk menampung tetes-tetes darah sahabatnya
Tak apa bercampur peluh bidadari-bidadari berurat
Yang terbang menjarak lapis bumi.
Cukup! cukup!
Dia hanya ingin berebah sebentar
Melerai batin yang letih
Melunakkan luka lebam
Sebentar..sebentar..
Biarkan dia memicing...
Tapi
Belum seinci bulu matanya terkatup
Suara gemerincing mendekat
Kaki kuda menyepak dan menyeretnya
Bercanda..bercanda!!
Pesta maya! pesta maya!
Tak tahu bahwa besi kuku kaki kuda memoncek mengelupas luka basahnya
Tak sadar bahwa kaki-kaku sang kuda menyeret dan menyandungnya tersaruk-saruk
Tak sadar bahwa degupnya mulai melirih
Raganya berganti nyawa...
Dia sudah disebuah lapang
Dijilatnya makademia
Menyadar dan menyandar..
Dia sudah dikirim seorang ibu
Tak tua matang senja
Ramah bersaut sapa..
Tanpa aba
Disibak lembut poninya
"Kau anakku"..tatapnya..
Oh, dia ketemu ibunya
"yaa, tapi kumau tusuk Obama"
Duh ibu..
Lusanya dia berkopi lagi dilapang berbeda
Disentuhnya perempuan berperut kanguru
Menggendong bayi
Berlari mengejar bayang dirinya dalam gulita gua
Kakinya berdarah..
Tapi nekad berkutat merakit sayap
Tertatih mengepak terbang ke langit
Menaik..menaik..
Luka darah kaki kawannya menetes di telungkup telapaknya
Semakin dia menguncupkan telapak tangannya
Agar memangkuk menampung tetes-tetes darah sahabatnya
Tak apa bercampur peluh bidadari-bidadari berurat
Yang terbang menjarak lapis bumi.
1 komentar:
ini lebih kren....
walau tak faham tentang dia yang dimaksud, tapi dapat dirasakan dan dinikmati.
muntahkan terus neng... gelisahmu betapa berharga. (cecep)
Posting Komentar