Jumat, 08 Agustus 2008

"We are pround"











Amsterdam: City of freedom

"Du yu no wats happening in Amsterdam tude"?
"Sure! Du you min gay parade ?"
Begitu obrolan ringan dengan seorang profesor yang secara tak sengaja ketemu di halte witte singel saat aku menunggu bus 28 ke arah CS menuju Amsterdam.
"Des, gw nunggu didepan rumah 122-124 ya, dipinggir sungai, dekat kapal Nieltje".
"Yun, gw suka deh, elu ngasih ancer-ancernya simple dan gampang banget, jadi biarpun buanyak orang begini jadi mudah nyarinya", kata sobatku.

Begitulah, kami janjian dengan sobat mau lihat parade gay yang hingar bingar membuat urap manusia di titik-titik penting di Amsterdam. "We are proud" begitu kita disambut spanduk-spanduk yang menjulang rapi rapat di Dam Square dan sepanjang jalan arah Muntlplein tempat rencana aku menterminalkan diri menguak geliat para manusia yang dikotak "abu-abu" yang berbendera pelangi ini atau populer dengan (LGBT: Lesbian, Gay, Biseks dan Transgender).

Ditengah himpitan sopan manusia, aku keluarkan kamera untuk memvideo,memfoto adegan-adegan natural dan semarak pesta kelompok pelangi ini. Persis pawai 17-an tapi ini mengalir tumplek di air. Kapal-kapal dihias meriah, penumpangnya me-reka busana dan muka mereka untuk menarik mata dan hati penonton. Ada tulisan raksasa, banner warna-warni menyembul ke langit, kembang api kertas memuncrat ceria menabur sana-sini, music tiap kapal berbeda, semua manusia bergoyang joget senang sebagai aktor atau sekedar penggembira, semua ras dan aneka negara memaksa datang bersama...

Banyak adegan sesama lelaki bebas mengekspresikan romantisme dan erotisme didepan mata kita, sesama perempuan juga sama! kulihat ada yang berpangkuan dan memeluk sampai anginpun nggak boleh menyela masuk ditengahnya. Atau aku lihat orang tua dengan pakaian roman kuno atau mirip asterik juga, gandengan berdemo lucu sambil jalan, lalu ada juga pasangan transgender dengan perut gendut yang tidak bisa disembunyikan dibalik gaun glamour yang serasa bersaing dengan Liz Taylor. Ada juga yang berpakain biasa, mesra dan jarinya saling memagut kecil, ada yang sekedar mencengkeram pinggang agar pasangannya tak bergeser dari dirinya! yah.....rupa-rupa!
Yang mengherankan tak banyak kulihat anak-anak dalam pesta ini. Pasti dibalik tembok sana, masih banyak orang tua yang cuma bisa mengintip tapi lebih nyaman gordijn tertutup biar tidak pusing dengan pertanyaan anak. Walaupun di Belanda ini disekolah juga sudah terbuka didiskusikan, atau guru bertanya siapa yang punya orang tua same sex..dan itu sudah lazim.



Sahabatku si "pelangi" abu-abu

Tiba-tiba kuingat sahabat di Lampung, salah satu peserta training gender yang aku adakan saat th 1996-an. Aku memulai dengan pertanyaan "apa yang paling mengesan dalam hidup kita yang berhubungan dengan persoalan perempuan". Seorang lelaki kekar tapi berwajah lembut, masuk dalam lingkaran dan dia merasa fisiknya lelaki tetapi jati dirinya dan nasibnya seperti perempuan. Dari dia aku kenal lebih dekat tentang kehidupan gay. Masih ingat dengan menahan tangis, dia cerita diperkosa polisi saat habis kena razia, gara-gara dia harus bergaya bencong menjaja hanya sekedar untuk dapat pasangan kencan. Ingat juga dia membongkar bahwa banyak pejabat tinggi laki-laki yang punya simpanan gay, dan dengan tertawa kesal dia bilang pernah dilempar susu kaleng dancow oleh istri salah satu pejabat tersebut. Detaill..detail sekali dia bercerita bagaimana dia menemukan dirinya dan dengan jujurnya dia bilang "walaupun didepanku ada perempuan super sempurna dan sexy tak berbusana, tidak akan aku pernah bisa suka"(tentu bahasa dia lebih vulgar). Tiap makan siang-malam selalu cerita demi cerita dia percayakan ke aku, seakan aku seperti bank yang dia aman mau lemparkan apapun cerita hidupnya.

Lalu kuingat juga sahabat lain yang aku merasa aman dan nyaman untuk berkawan. Dia gay pemula, malu-malu, cerdas, menarik dan pernah dari negara lain, dia terdengar sesak suara, telpon mengadu bahwa dia seperti "dibooking"oleh bule dan diumpetkan di salah satu peternakan terpencil. Dia dalam bimbang antara ingin tahu, meluapkan jiwa adventurenya, tapi ada resah serius dibalik intonasi bicaranya. Dia seperti direndahkan, dikonsumsi, diobjekkan, diingini tapi tak dipeduli ! Belakangan dia nekad, akhirnya memilih tinggal di komunitas yang tidak klop dengan pilihan hidupnya. Concern kemanusiaan menggiringnya untuk menekan dirinya menjadi orang lain. Tapi pernah aku diajak ke kost barunya, dan aku tahu bahwa ada connecting door dengan kawan sesamanya...rumah menjadi arena merdeka disaat sistem sosial begitu menjerat.

Islam yang tertantang
Yang ini cerita tentang seorang kawan, bule, tinggi, ganteng ..Tom Cruis lewat!! Sering dia mengetuk kamar kerjaku untuk menawarkan makan siang atau sekedar pamit pulang dengan santun dan sesekali ditambahi kalimat to make sure biar aku nggak kecapekan. Suatu kali kami jalan ke arah stasiun,tambah akrab, dan dia bercerita bahwa risetnya tentang gay dan Islam. Owww..pasti menarik. Awalnya aku pikir dia hanya peneliti tentang gay. Tapi seperti biasa, dia langsung percaya dan bercerita bahwa dia juga gay. Ya memang menarik, selain gay, dia sendiri muslim! dan extremnya lagi dia asli dari US!! Semua identitasnya diobrak-abrik dan bersilang tak karuan.
Dari dia nalar Islamku tertantang. Dia cerita bahwa suatu kali ada temannya yang brukut rapi berjilbab dan saat dia main kerumah sahabat putrinya ini, dengan ikhlas sobatnya ini buka jilbabnya. Tentu kawanku ini terperanjat dan dengan gampangnya kawannya ini bilang "well, kamu kan muhrimku, karena kamu 'bukan laki-laki yang suka perempuan". Ya..definisi jilbab,muhrim menjadi diacak! Jadi muhrim-non muhrim bukan definisi jenis kelamin, tetapi lawan jenis kalau aman padahal tidak ada hubungan darah juga menjadi muhrim.

Dia juga bilang bahwa secara sexual, gay dalam Islam tidak pernah bisa dihukum dan dikatagori zina, karena definisi zina dalam Islam itu sangat konvensional; hubungan setubuh laki-laki dan perempuan (masuknya farj/penis kedalam vagina). Gay bukan dalam katagori itu!

Hal lain yang membuat aku pening, dia cerita ada konggres gay internasional. Peserta gay muslim minta disediakan tempat untuk sholat. Akhirnya disediakan. Komunitas gay lebih bisa menerima siapapun dengan agama apapun. Tapi gay Muslim ini masih dikunci rapat dalam Islam. Lalu dia bilang, "kami akan loyal menjadi muslim sejati, tetapi kami tidak pernah diakui keislaman kami hanya karena kami gay. Apakah kami harus keluar dari Islam kalau memang tidak dikasih tempat? Padahal kami sangat patuh dan berusaha menjadi muslim yang baik".

Ya..complicated...kemanusiaan, keislaman, kesantrian..harus bisa menjawab soal-soal begini. Jangan sampai kita cuma enak dan nyaman dengan ta'lim yang seragam, nunduk dan manggut-manggut, kita rapi berpeci dan rajin ngutip hadith yang sudah melekat digigi dan gusi, lalu seakan mudah mengangkut umat ke surga dengan dalil dan janji tak pasti...sementara banyak umat-umat yang tercecer dan kita sengaja tutup mata biar kita aman dan bersih dibalik jubah putih dengan aroma parfum kesturi.

Leiden, 2 Agt 08

2 komentar:

Anonim mengatakan...

kami akan loyal menjadi muslim sejati, tetapi kami tidak pernah diakui keislaman kami hanya karena kami gay. Apakah kami harus keluar dari Islam kalau memang tidak dikasih tempat? Padahal kami sangat patuh dan berusaha menjadi muslim yang baik".
Kontradiktif dan rancu mbak jika seorg gay mengaku dia sdh patuh thd perintah Allah ,dlm al-quran kan sangat jelas kemurkaan Allah thd kaum pelangi ini. Mas 'Tom' ,patuhlah menyeluruh dan total thd komitmen anda untuk menjadi muslim yg baik. Kenyataan bgw anda hanya tertarik pd sesama pria, anggaplah sbg ujian Allah seperti halnya seseorg yg dicoba dgn berbagai penyakit yg tak tersembuhkan. Lawanlah 'penyakit'ini sekuat tenaga smp hayat dikandung badan.

Anonim mengatakan...

Makasih udah berkunjung dan berkomentar menarik....Saya pribadi juga selalu berdoĆ” moga-moga hidup kita selurus dalam teks-teks agama kita. Tapi coba deh, kapan-kapan ketemu dengan mereka, ngobrol mendalam dan mencoba melihat mereka bukan dari kaca pencakar langit tapi mencoba menghayati sudut basah mata hati mereka. Pasti kita akan merasa berbeda....saya belum tahu jawaban agama mas/mbak...mari sama-sama kita cari... (bagusnya lain kali jangan anonim lah, toh diskusi kita produktif).