Wajah sobatku ceria dan provokatif
Bahwa ia baru menemukan sobat lamanya
yang hilang tertimbun waktu dan terlindas aktifitas
Karena jasa luhur malaikat penjodoh "facebook"
Yang jadi trend sebuah kelas dan kelihatannya mengasikkan
Aku suka mendengarnya,
Aku tertantang mencobanya
Lalu kemarin dan hari ini
Mataku merah mendelik dan melerai nama-nama
Membayangkan seperti mencari kutu diatas rambut teman masa kecilku
Waktu menemaninya menggembala kambing untuk tabungan sekolahnya
Di oro-oro pinggir kali Belikwatu
Satu..satu...satu
Kutemukan nama tokoh yang itu temanku
Kutemukan sahabatku yang berusaha menokoh
Kutemukan satu dua orang yang satu dua kali bertemu, tapi mengesan
Kutemukan bukan siapa-siapa atau siapa-siapa yang dekat hati dan hidupku
Kutemukan nama tenar tapi malas kuundang karena tawar rasa
Kutemukan nama meratu tak mutu yang kulompati karena kugagal kalahkan gengsi
Kutemukan nama baru kenal, tapi semangat kuundang karena sapa matanya ramah berteman
Kutemukan orang "lapar" teman, semua nama masuk kuragu apa mereka saling tahu
Kutemukan tokoh gaul, tapi list teman-temannya miskin bisa terhitung jari
Kutemukan seribu manusia dan cara melihat manusia
2 hari diukur, bisa jadi aku tak buruk, hampir dapat 60 teman
Artinya, di usiaku yang hampir 40 tahun, aku cuma punya 55 teman?
Artinya, apakah dalam setahun aku hanya mampu berteman dengan 1 1/2 orang?
Lalu, kemana si Katini, Siroh, Bekti, Mintarsih,
Nuryani, Parmi, Lastri, Sarkono, Harso?
Mereka teman-teman SD-ku di pelosok sekolah reot yang sering kukangeni
Sesekali kulihat salah satu mereka menggendong ayam dijual dipasar.
Ada juga yang jual daun pisang dan menyembunyikan wajah dibalik capil bambunya
Kudengar ada yang jadi TKI di Jepang, legal tak legal tak jelas
Kusuka ada yang sudah bercucu
Kurikuh ada yang tiba-tiba cium tangan dan mengkromo tinggikan aku
Kemana sahabat-sahabatku Pabelan
Yang kutahu ribuan..tapi raib dalam gilasan list elitis ini
Kemana kawanku sepuluh tahun lalu yang rajin bergandeng
mengepal marah dan saling rengkuh kukuh bersama?
Kalau kuhitung,
Aku tak buruk dalam memulai dan merawat pertemanan
Memang tidak se heroik kawan2ku yang rajin detik per detik jaga "klik"
Aku sering abai balas sms, nunda menelphon, lupa tanggal ultah...
Tapi kutahu kapan aku perlu ingat dan dekat
Bukan dengan numerik dan dunia melangit begini
Sahabat-sahabatku terpendam dalam palung negeri
Mereka dirudung busung
Harus menghuyung untuk mengisi lesung
Jangan harap tahu facebook, nyebut internet saja tertukar dengan eternit
Menyebut komputer saja, kepleset menjadi kometer
Sahabatku kuhitung menumpuk dan menebar
Sudah banyak mengukir dunia dan media
Tetapi waktu mahal tak terjual dan bisa jadi langka tak terbeli
Tak mungkin berjam menyisir njlimet mencari sahabat
Dari mengacak lacak laci kawan, mengodal adil kedai sahabat
Tertemu ribuan! tapi terkadang cuma satu yang kita "aku" jadi sahabat
Unik..menarik , menggelitik....mengusik!
Tak usah ta'jub, tak usah sedih
ketika list membunting atau memelanting
Tak usah risau, tak usah binar
Ketika lihat lemari orang berdesak penuh sesak
Semua hanyalah etalase
Sahabat adalah hati
Yang terpanggil kala nyeri dan berseri
Yang bisa marah ketika kita memerah
Yang bisa menangis ketika kita mengais
Sahabat
Bukan yang dipanggil ketika kita menggigil
Bukan yang dideret seperti kabaret
Bukan yang dipajang untuk adu senang
Tetapi mereka "mati" tak bereaksi
catatan kamar baruku
pucuk istana sepiku Leiden 15 Sept 08
3 komentar:
Rindumu terbalut rindu
Hingga yang tegeraet di pintu
Rindu
Yang berkecibak di air
Rindu
Yang terbaring di tikar
Rindu
Rindu itu, temenku...
Kini terpasung di jantung
Tersayat di sukma
Terhunus di hati
Lihatlah sahabatku,...
Ke sini ke lidahku
Diam-diam mengeja satu-satu
r-i-n-d-u
cihui...lain kalau pujangga bersastra..makasih komentarnya. Boleh nggak puisimu itu aku taruh di Angera? Aku gak pede naruh puisiku selain di almari kecilku ini. Lagi sibuk apa nih?
untuk temanku yang serba bisa ini, selalu boleh.
puisimu juga mestinya dipajang di angera biar yang lain terpropokasi
Posting Komentar