Hidungku, mataku, rambutku, kulitku..
tak tahu bahwa aku tengah kelu kuyu
Kutahu....
Disana ada tangan nyawa keduaku
Yang kulamun mengusapku
Menyentuh lirih bulu lengangku
Tapi pekat merayap ke ulu nadiku
Dengan sepenggal suaranya, aku tersirap luluh
Dengan gelegak tawanya, aku terjangkit bangkit
Tapi disini... cerita sore ini
Tapi disini... cerita sore ini
Tirai oranye kusibak kecil
Agar cahaya luar menabrak lamunku
Agar udara luar memompa sengal nafasku
Agar kutetirah yakin ada manusia disana
Tak...
Tak...
Yang kutemu hanya obor padam dungu bersembunyi
Yang kunanti lunar yang berpendar pudar
Yang kudengar hanya percik perih hujan yang terusir
Yang kuyakin..tak ada kehidupan, diluar sana dan disini...
Kuingin kembali
Kuingin pulang
Kuingin kembali merasa punya
Merasa punya orang yang merasa
Rumah hijauku penunggu kala
Untai manik waktu
Biar tak bertebar
Jerat ikat jadi pendek pepat
Tak apa tak berkilat
Kamar lengang
Witte Rozen straat 44
Tapi rapat, hangat dan kuat
Hijauku...
Warnaku...
Adaku...
Kamar lengang
Witte Rozen straat 44
Tidak ada komentar:
Posting Komentar