Sawangan-Lbk Bulus 2 Juli 2008
Pagi itu..
Kukenakan atasan hitam yang kubeli dari C & A Centrum Leiden
Tidak mahal tapi berkwalitas dan aku merasa cantik dengannya
Kukaitkan ikat pinggang etnik penyempurna gaya pagiku
Ku oles tipis parfum white musk body shopku
Ku pakai aksesoris senada expresi estetika pencerahku
Kulipat scarf yang nanti akan aku sulap menjadi kerudung
Untuk menentramkan orang-orang bahwa alim itu dengan selembar kain
Hari itu aku diminta jadi narasumber disebuah hotel mewah disekitar nadi bunderan HI
Aku akan dijejer dengan para celebriti intelektual yang biasa masuk tipi
Pasti orang menduga aku akan naik mobil atau taksi
Padahal aku punya kesukaan karena tidak bisa memilih
Naik angkot! pilihan ideologis dan sensitif..
Angkotku berhenti lama..
Menanti seoarang lelaki gondrong dengan 2 bocah dituntunnya
Semakin mendekat..tapi tak ada tanda mau naik angkot 106 yang kutumpangi
Setelah menyeberang, mendekat juga akhirnya mereka
Tanpa ekspresi, masuk dan duduk didepanku dengan hela nafas lega.
Tampilannya seperti Emha Ainun Najib edisi orang susah
Dua gadis cilik ditatanya duduk..
Dibenahinya cara duduk keduanya seperti mendudukkan pengantin
Yang 1,5 tahun dipangkunya, dan yang 4 tahun disandingkannya sampingku
Tangan mungil gadis cilik sampingku diletakkannya diatas pahanya untuk gondelan biar aman
Wajah bocah-bocah cilik ini tenang, tetapi blereng kotor dipipi mereka
Kuku-kuku hitam juga akrab melengkapi tidak terurusnya fisik mereka
Lengan kurus dan kulit berbintik nyamuk menyempurnakan kesan susahnya mereka
Panas dan penatnya angkot..
Tiba-tiba tersejukkan oleh pemandangan kontras didepanku
Lelaki seperti EMHA dengan wajah ndesonya ini menjadi bintang tontonanku
Jari-jari kasar ini begitu lembut meraup dan merangkul gadis ciliknya
Sepanjang jalan tak henti mengelus, mencium tipis tapi bertenaga
Si GAdis kecil seakan ingin dimasukkan kedalam raganya
Menyatu masuk tanpa jarak seincipun..
Tutur bahasanya lembut..
Ditanyanya sigadis kecil yang belum fasih bicara?
"mau kemana" kita? Tanya si ayah sangar dengan lidah suteranya
"nderek ayah.." jawab cerah sigadis kecil..
Indera Jawaku menyadap
Bahwa anak ini terengkuh oleh tangan yang benar...
Kubayangkan sendiri, kubikin teka-teki sendiri
Kemana ibunya? Pergi karena kukunya ingin rapi dan mencari lelaki klimis?
Kemana ibunya? Pergi karena berjuang mengumpul biji-biji nasi?
Kemana ibunya? Pergi karena dapat undangan mati dari sang Rabbi?
Angkot..mengajari hati untuk tetap kaya..
Angkot..mengajari kita tetap berdompet tebal dan mengkayakan bangsa
Angkot..mengajari kita sabar, kursi tidak untuk sendiri, jalan itu untuk bersama...
2 komentar:
Favoritku puisi maya en cerita di angkot 106. Jadi ampir meweg neh..*hiks*
Cerita ini sungguh ajib....mampu menemukan cinta dan kasih sayang tidak selalu di ruang-ruang populer, tidak di tangkai bunga, mobil mewah, sapaan mamah papah, atau benda-benda lain.
nah...masa cerita sebagus ini tidak dimsukkan blog angera.... ah kau...
Posting Komentar