Sabtu, 19 Juli 2008

Dua Peneliti Hudson Institute Diskusikan Masa depan Islam

Published at: www.wahidinstitute.org.

Dua peneliti di Hudson Institute Enders Wimbush dan Eric Brown, berdiskusi dengan sejumlah tokoh agama Indonesia di kantor the WAHID Institute, Jakarta, Selasa (07/3/06).

Hudson Institute adalah lembaga swadaya masyarakat berbasis di Washington DC, Amerika Serikat. Lembaga think tank Pemerintah Amerika Serikat ini sedang melakukan riset tentang isu demokrasi dan masa depan dunia Muslim.
“Mereka datang ke sini untuk mendiskusikan tentang situasi terakhir Islam di Indonesia, terutama perkembangan gerakan-gerakan Islam progresif atau pluralis dan Islam radikal. Mereka ingin tahu kompetisi dua kelompok itu dan apa efeknya terhadap masa depan Indonesia, “ ujar Direktur Eksekutif The Wahid Institute Ahmad Suaedy.
Diskusi itu dihadiri agamawan muda Islam dari unsur pesantren, konservatif, dan liberal. Mereka adalah Direktur Eksekutif The Wahid Institute Ahmad Suaedy, Direktur Religious Reform Dr. Lutfi Assyaukanie, Ketua PP Pemuda Muhammadiyah Abdul Mukti MA, Dosen senior UIN Jakarta Dr. Sri Mulyani, Kandidat Doktor ISIM Belanda Yuniati Chuzaifah MA, Dosen UIN Jakarta Badrussoleh MA, dan Direktur Perguruan Tinggi Departemen Agama Prof. Dr. Abdurrahman Mas'ud.
Peserta diskusi yakin, Islam progresif dan pluralis lebih diminati mayoritas umat Islam Indonesia. “Dari sudut public opinion mereka juga cukup mendominasi. Hanya saja kalau masalahnya kekerasan, maka kelompok radikal yang kelihatan,” jelas Suaedy.
Kelompok silent majority (mayoritas yang diam, red), juga lebih menerima pola pikir kelompok progresif/pluralis itu, meskipun ada beberapa yang konservatif. “Konservatif itu tidak sama dengan radikal,” imbuhnya.
Suaedy juga menyampaikan, The Wahid Institute selalu melakukan penguatan kepada kelompok silent majority ini dan juga terhadap tokoh agama progresif di daerah-daerah. “Hudson Institute menwarakan kerja sama untuk capacity building dan riset soal agamawan progresif ini ,” ujarnya.
Kerjasama itu, kata Suaedy, berkaitan dengan riset bertajuk the future of the muslim world yang dilakukan Hudson Institute. Riset itu bertujuan memetakan ragam kelompok muslim, baik yang radikal maupun progresif di seluruh dunia. “Fokus mereka sekarang masih di Timur Tengah. Nanti ke Afrika dan Asia, dan salah satunya Indonesia,” imbuhnya.

Tidak ada komentar: