Aku jalan gontai, lelah tidak ada sepeda setelah putar-putar ke kantor, perpus, Gemente dan cari pesenan gadisku via sms lucunya. Kuselusuri Harlemerstraat, baca di Water lijn dan lanjut ke jalan Rapenburg, Doelensteeg.... Persis depan KITLV aku ketemu orang kulit hitam, nanya basa-basi apakah aku student, dan mulailah obrolan nyambung kalau dulu Common Ground kantorku punya projek peace building di Burundi. Lalu dia mengaku sebagai political asylum seeker (pencari suaka politik). Dia rupanya sepupu presiden Burundi yang hanya bertahan 3 bulan karena terbunuh, disusul dengan ayah, ibu, kakaknya. Kakak perempuannya juga lari bermukim di negeri lain. Dia sempat setahun lari menyusuri hutan Kongo, lalu bersembunyi di Afrika selatan dan sejak 2005 ke Belanda. Sekarang dia belajar hukum, tapi gagal terus karena harus punya kemampuan bahasa Belanda yang bagus.
Dia bercerita, karena dorongan sepupu presiden tadi, dia jadi anggota parlemen termuda, 21 tahun. Kakaknya elit politik dan bisnisman pemilik perusahan transportasi dan export import. Semua harta itu kini dikuasai militer yang membunuh sepupunya. Kenapa presiden terbunuh? Menurut analisisnya, karena US punya perusahaan emas di Burundi, lalu memaksa presiden untuk mengexport tambang emas tadi tanpa tax. Tentu ditolak. Lalu militerlah yang diperalat untuk mengkudeta dan menghabisi keluarga besarnya, puluhan habis!!
Anehnya dia bersikukuh ingin balik ke Burundi, menjadi politisi lagi dengan resiko nyawa. Menurutnya hal yang lumrah di Burundi, bahwa seorang politisi harus siap mati!
Sambil ngobrol aku foto-foto puisi-puisi dinding di Leiden, dan dia menyimpulkan aku suka photografi. Dia ramah, menawarkan mengajak ke Noordwijk pantai untuk memfoto sunset. Dia mau ambil mobil dan dengan aneka argumen semangat mau ngajak keluar intinya. Alamak!! Matursuwun, sambil aku sopan pergi menghindar.
Kamis, 24 Juli 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar