Rabu, 09 April 2008

Advokasi kematian Ita Martadinata

Bernas,

Jenazah Ita Dikremasi
Kata Polisi, Tak Ada Motif PolitikJakarta, BernasPolisi tetap pada keyakinan bahwa kematian Marthadinata (Ita, 17) tidak terkait dengan masalah politik dan sentimen etnik. Karena itu Kapolda Metro Jaya Mayjen (Pol) Noegroho Djajoesman, Minggu (11/11) menyesalkan pemberitaan media massa yang mengaitkan tewasnya Ita dengan masalah ter- sebut.
Di lain pihak, kalangan aktivis menggalang solidaritas untuk kematian Ita dan korban-korban tindak kekerasan lain. Bagi mereka, persoalannya bu- kanlah terkait pada ada tidaknya motif politik di balik insiden-insiden tersebut. Rakyat harus dilindungi dari teror kejahatan, kekerasan, dan pem- bunuhan, apa pun motifnya.
Ita, pelajar kelas III SMU Pascalis Jakarta, ditemukan tewas Jumat (9/10) di kediamannya Jalan Berlian III, Jakarta Pusat. Sehari kemudian, Sabtu (10/10) polisi menangkap Suryadi alias Otong (20), sebagai tersangka. Menurut hasil pemeriksaan polisi, Otong menghabisi Ita karena kepergok saat akan mencuri.
Kemarin, jenazah Ita dikremasikan. Ratusan orang mengiringinya, termasuk sejumlah aktivis. Orangtua Ita, suami istri Leo, tampak tak kuasa lagi membendung duka. Gemeretak api yang membakar peti mati Ita, diiringi gumam keharuan para pelayat.
Ita -- bersama ibunya -- adalah partisipan aktif Tim Relawan untuk korban kerusuhan Mei. Menurut Ketua Tim Relawan, Romo Sandyawan, selama ini tugas Ita adalah mendampingi perempuan-perempuan keturunan Cina yang jadi korban pemerkosaan.
Dalam waktu dekat, Ita, ibunya dan anggota Tim Relawan akan bertolak ke AS untuk menyampaikan kesaksian di lembaga Hak Asasi Manusia di sana. Sehari sebelum terbunuh, Ita baru menyelesaikan urusan paspor di kantor imigrasi.
Peristiwa berdarah ini merupakan puncak pertama dari rangkaian teror di tengah usaha Tim Relawan mengungkap kasus pemerkosaan masal dan ke- rusuhan diskriminatif Mei 1998, kata Sekretaris Jenderal Gerakan Sarjana Jakarta (GSJ) Vivian Idris Pabottinggi dalam siarannya, Sabtu (11/11).
Pembunuhan Ita di tengah aktivitasnya dalam bidang kemanusiaan menimbulkan tanda tanya besar bagi kami sehubungan dengan semakin banyaknya aksi teror yang disasarkan kepada pembela kemanusiaan akhir-akhir ini, tutur Yuniyanti Chuzaifah Wahyu Susilo dari Perserikatan Solidaritas Perempuan dalam pernyataan terpisah.
"Saya menyesalkan kasus tersebut telah dipolitisasi sehingga membi- ngungkan masyarakat. Padahal, peristiwa itu murni tindak kriminal dengan motif perampokan. Tidak berkaitan dengan upaya mengancam atau menghalangi Tim Relawan untuk mengungkap kasus pemerkosaan pertengahan Mei 1998." kata Kapolda Metro Jaya Mayjen (Pol) Noegroho Djajoesman kemarin.
Apa pun motifnya, menurut Gerakan Sarjana Jakarta, pembunuhan ini terjadi di tengah-tengah rangkaian pembantaian warga Nahdlatul Ulama di Ba- nyuwangi dengan fitnah dukun santet, dan teror terhadap mahasiswa Timor-Timur di Kupang, setelah rangkaian fitnah dan tuduhan komunis ter- hadap gerakan mahasiswa yang ditandingi aksi massa kontra reformasi di Jakarta sebelumnya.
Mengaku membunuhMenurut Kapolres Jakpus Letkol (Pol) Iman Haryatna, Otong ditangkap di rumahnya --yang bersebelahan dengan rumah korban-- oleh tim gabungan Polda Metro Jaya dengan Polres Jakpus Sabtu sekitar pukul 20.00. Menurut dia, Otong mengakui telah membunuh Ita karena memergokinya saat ia hendak mencuri di rumah Ita.
Masih menurut Iman, saat itu Otong butuh uang untuk membayar utang orang tuanya sebesar Rp 1,5 juta. Ia nekad mencuri karena takut ayahnya menjual rumah untuk melunasi utang tersebut.
Ibu Otong, Ny Dati (50) saat dijumpai di rumahnya -- sekitar 4x6 m dan tepat berhimpit dengan rumah keluarga Ita -- mengatakan bahwa Otong ingin melunasi utang orang tuanya.
Menurut Dati, suaminya mengancam akan menjual rumah mereka jika utang itu tidak segera dilunasi. "Akibatnya hampir terjadi pertengkaran antara Otong dengan Bapaknya. Rupanya ancaman Bapaknya itu membuat dia tertekan, sehingga mencuri," kata Dati lagi.
Utang itu, kata Dati, merupakan sisa dari utang sebelumnya Rp 4,5 juta untuk biaya berobat kakak perempuan Otong yang terbakar sekujur badan, padahal suaminya hanya bekerja sebagai buruh bangunan.
"Kami sangat akrab dengan Bapak dan Ibu Leo (orangtua Ita, red). Mereka juga sering membantu, waktu kakak Otong dirawat akibat luka bakar, mereka beberapa kali menyumbang Rp 100 ribu," katanya.
Menurut Ny Dati, Otong dan Ita sejak kecil sudah saling mengenal, dan sepupunya itu sering dipanggil keluarga Leo untuk memperbaiki genteng yang bocor atau mengecat rumah.
Menurut Kapolres Jakpus, polisi sudah menyita pakaian -- yang diidentifikasi sebagai milik Otong -- yang belepotan darah, kain yang digunakan menyerbet darah, serta perhiasan.
"Sedangkan pisau dapur yang digunakan untuk membunuh, serta kunci rumah korban yang hilang telah dibuang ke kali di daerah Sumur Batu, dan saat ini kami tengah mencarinya," kata Iman Haryatna.
Kenal situasiMasih menurut polisi, Otong mulai beraksi sekitar pukul 11.00 (Jumat, 9/10). "Karena sering diminta bantuan keluarga Ita, Otong tahu benar situasi rumah," kata Letkol (Pol) Iman Haryatna.
Saat menggerayangi kamar Evi --kakak Ita -- Otong kepergok oleh Ita yang ternyata saat itu tidak sekolah. Karena panik, Otong mengambil pisau dari dapur dan mengejar Ita. Sempat terjadi pertarungan, sebelum Ita tewas dengan luka tusukan pisau.
Menurut Alex (43) sepupu Otong, saat Ita ditemukan tewas semua keluarga Otong sempat mendatangi tempat kejadian. "Sedang Otong justru duduk di ruang belakang rumah, sendirian sambil mainan kartu," katanya.
Kata dia, Otong tampak gelisah mendengar polisi datang dengan membawa anjing pelacak. Diam-diam, Otong meningalkan rumah ke rumah kakaknya di Kedunghalang, Pangkal Tugu Bogor.
Saat di Bogor, korban mengakui kepada pamannya, Marja, bahwa ia telah melakukan pembunuhan tersebut dan akan menyerahkan diri ke Polisi. "Saat dia kembali ke rumah ini, dia sudah dijemput polisi," katanya.(yos/ant/*)

Tidak ada komentar: