Debat di milist Leideners, 8-9 oct 07
Meledek alimisme atas nama nasionalism
Moga-moga pada konsisten gak beli
CD bajakan, gak pakai product transnational
corporation macam Nike, Adidas dll yang mencuri
keringat buruhnya dinegeri dunia miskis dengan upah
murah, moga-moga gak pakai tissue toilet karena banyak
nebangin pohon negeri lugu, moga-moga juga gak naik
tram atau kereta itu sendiri..karena kekayaan Belanda
ini dulu akumulasi dari hasil "rampokan" dari negeri
jajahannya.. .belum lagi, kalau kebetulan dia
philolog, naskah-naskah disini juga banyak yang
dipindahkan diam-diam...
(tambahan..biar lebih hati-hati dan kaffah)
Sisi Positif dari Kolonialisme
Kok pada paradox begini? Memang penjajahan mewariskan
tradisi kebebasan pers (bukan terbitannya yang
dimatikan tapi redpelnya yang dipenjara), lalu mereka
juga memperkenalkan organisasi modern, menghargai hak
politik (ada Mhs Perhimpunan Indonesia yg diadili
disini karena dianggap provokatif, tapi dia sebagai
student diberi hak untuk selesaikan study). Itu benar!
Tapi sedih dengan logika bahwa bangsa/nusantara kita
dijajah karena penguasanya mau, bahkan raja-raja waktu
itu njajakan diri! Faktanya ada! Tapi perspektif kita
menjadi sangat elitis..melihat bangsa dari
penguasanya! Miopis!! Lalu melihat resistensi kaum
muda/intelektualnya hanya karena dianggap tidak
kebagian kekuasaan!.. .simplistik! !
Siapa untung siapa rugi?
Perdebatan awalnya adalah, bahwa kolonialisme itu
adalah mengasikkan dan penuh berkah (bahasa Ustaz
Jefri Buchori ceritanya, mumpung puasa) dan itu
disimplifikasi dari segelintir polah
penguasa/raja/ elit politi saat itu. Kenapa nggak
dibalik, melihat dari sisi orang yang melata; kenapa
resistensi petani di Pekalongan demikian persisten?
Kenapa kok pesantren menjamur sbg bagian dari anti
terhadap kontrol kolonial terhadap institusi pedidikan
Islam yg potensial rebell, kenapa gak lihat dari
kacamata Ratnasari perempuan muda aktifis PERMI (gak
masuk dalam daftar pahlawan karena perjuangannya gak
militeristik atau gak di jalur mainstream pendidikan
yg memperempuan) , kenapa gak berfikir bahwa lidah
orang Jawa miskin harus suka manis karena konstruksi
rasa biar industri gula kolonial laku? Kenapa gak
melihat banyak perempuan menjadi sinting ingin putih
karena mono kultus perempuan ideal adalah barat?
Kenapa masih suka penyebut pemerintah ketimbang
penyelenggara negara karena dibawah sadar sudah
nyangkok memori ambtenar yang nuding-nuding dan
berkacak pinggang?
Kolonialisme masuk ke lidah, kepori-pori, ke warna
kulit, ke memori otak yang entah gimana mengurai dan
melunturkannya. .
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar