Jumat, 11 April 2008

Studying Mom : Geng dokter

Ketiganya sma-sama cantik, awet muda dan unik-unik.......
Karena punya kesamaan nama, maka aku segera kasih dia nama Dora (dokter anak-anak), jadi nama Yuni Dora sudah melekat erat jadi nama beken dia di Leiden, bahkan orang sering nyebut Dora saja. Cara berfikir dia dalam melihat hidup sangat positif, dari mengentengkan problem rumit, cerdik dan tangkas (sering juga nggak jelas), sampai cerita usil dan isengnya menghadapi pasien. Salah satunya, ada pasangan yang ngeluh sakit kalau berhubungan intim, enteng aja dia kasih advis: "ya nggak usah berhubungan" :)!!!. Belum lagi kalau ada lomba dokter terjorok sedunia,dia menang! Sering dia nggeprek serai pakai pintu dapur, dan karenanya pintu dapur Stationsplein asrama kami rusak, lalu dia ganti cara: pakai hak sepatu! Deretan sikap anehnya memenuhi memori pertemanan kami. Tapi sebagai ibu yang harus study tidak ringan buatnya. Pernah CD Vina Panduwinata yang dia hadiahi, aku putar, dan pas aku noleh, disofa belakangku sudah ada seorang ibu yang meneteskan air mata sendu menatap kosong ke arah stasiun, ingat putrinya Cici yang sedang ultah jauh di Makasar. Langsung aku bilang: "ok, aku juga buat kartu ya buat Cici?"... dengan maksud menghibur. Dia suka... tapi juga bilang: "jangan kartumu lebih bagus dari kartuku". Hal yang juga pernah bikin dia sedih, saat Cici putri tunggalnya mens pertama, dan dia merasa kehilangan moment berharganya! Persahabatan kami masih terawat baik, kami pernah ke Makasar dan dia juga berusaha nyempatin ke gang jambu yang jauh itu...makasih kakak! eh adik...

Tanpa bilang profesinya, orang akan mudah menebak bahwa dia dokter. Karena terkesan serius dan apik, atau istilah temenku sangat "proper" dalam bersikap. Hidupnya sangat reflektif, kadang melankolis. Pengalaman sekolah saat Yoga putra tunggalnya, sering membuat kami harus saling menguatkan. Apalagi kondisi fisik putranya yang sangat rentan. Butuh energi dan mental extra untuk bisa survive bersekolah menyelesaikan S3-nya. Selain ahli TBC dia banyak menekuni HIV-aids dan belakangan networknya saling ber-arsiran dengan networkku di isue perempuan. Cerita yang paling mengesan darinya adalah tradisi memberlakukan PRT (Pekerja Rumah Tangga) yang luar biasa loyal dan bahkan menjadi bagian dari keluarga betul, dari generasi ke generasi. Pernah kami belanja di V & D Den Haag, dia ambil 2 buah kaos, dengan ceria dia bilang : Ini satu untuk aku kembaran sama mbak Nik, yang momong Yoga". Something nice from her. Sesibuk apapun dia, juga selalu menyempatkan bertemu entah hanya beberapa menit di airport atau aku datang ke Rumah sakitnya...

Kami jarang ketemu, susah cari kesempatan untuk cerita banyak..tapi perjuangannya untuk study patuh dicatat! Dia berjuang menguatkan diri karena harus meninggalkan 3 putri yang saat itu balita bahkan ada yang bayi segala. Cerita yang pernah membuat aku hampir meneteskan air mata saat putrinya bilang: "äku nggak mau minum susu! Kata mama, ke Belanda buat beli susu, nanti kalau aku minum susu, mama pergi lagi ke Belanda". Lalu cerita lain dari putrinya: "Aku nggak mau pintar! nanti kalau pintar, aku pergi-pergi terus kayak mama". Itu baru cerita yang terkata...cerita lain pasti banyak tersembunyi disana.

Tapi tahun demi tahun...pada akhirnya mereka selesai semua....senang kalian bisa melampauinya!!

Tidak ada komentar: