Diposting di Leideners. 12 Novemeber 2004
Semalem aku diajak nonton film seorang kawan yang baik, tentang penghancuran komunisme di Korea th 50-an. Film ini menarik, bagaimana sebuah perubahan makro ditilik dari pengalaman mikro dengan lensa kepolosan anak-anak, tapi berbatin sangat dalam. Sketsa-sketsa hidup, pendosaan ideologi,intrik dan konflik para manusia dewasa dan penguasa justeru tidak berlaku didunia anak. Mereka riang walau orang tuanya berbeda warna ideologi, ceria pada awal mengintip para tentara US/UN menyalurkan birahi kepada perempuan-perempuan Desa. Tapi anak-anak itu tetap saja murka, ketika melihat ibunya yang miskin --suami dihilangkan karena komunis,sudah berusaha menjual baju anak-anaknya dan menyisakan satu saja. Ketika semua ludes, tinggal tubuhnya yang bisa jadi kapital untuk membuat anaknya hidup--harus terbiar tak kuasa dijamah tentara Amerika dari berbagai warna kulit diatas jerami rumah kosong. Ironis, suami dan istri dihabisi dengan cara berbeda, konflik selalu memakan perempuan. Akhirnya rumah mesum itu dibakar oleh si anak, Chang Hee namanya, dan mungkin dia juga membakar dirinya, karena dia lenyap. Kawan-kawannya menunggu rantai waktu, musim panas telah tiba, tapi Chang hee tak kunjung tiba... Penantian yang melelahkan. Ritual "mematikan sejarah" Chang Hee akhirnya dilakukan anak-anak itu, dengan dibuat kuburan fiktif yang dirawat bersih oleh sahabat karib Chang Hee, yang kebetulan seorang anak dari antek kapitalis yang kerjanya di Base tentara US/UN. Belakangan sianak tahu bahwa kerja bapaknya ternyata menjadi broker birahi tentara-tentara itu dan melarutkan daki-daki baju tentara mereka. Simbol kapitalsm, American minded dimunculkan dengan ekspresi kecil tapi berbicara. Keluarga antek kapitalis ini mulai ingin menggunakan garpu dan pisau untuk makan ketimbang sumpit yang sudah luwes dijarinya. Anak gadisnya dibiarkan pesta dikamp tentara, hamil oleh serdadu bernama tapi tinggal nama, ayah sijanin tak jua muncul, dinanti dengan literan airmata. Radio, rumah mewah membuat keluarga ini berbeda dari desanya yang semakin miskin, sementara orasi politik anti komunisme, kepalan fanatisme dan indoktrinasi melalui sekolah-sekolah tenda terus bekerja.Dan..dan..dan..
Aduh jadi malu, aku bukan sastrawan atau peneliti sastra atau pengamat film..tak layak nglanjutinnya.
Biar asik, kalau mau diskusi ttg komunism,PKI dari pengalaman seorang sastrawan yang lama menghitung waktu di pulau Buru, gimana kalau kita undang Hersri Setiawan, dia ada di Utrect, aku nggak kenal dia, tapi aku kenal dengan orang dekatnya yang bisa menggandeng dia kesini (kalau waktunya mungkin).
Leiden, saat otak beku jam 15.38, hari Rabu pahing...
Versi sebelumnya…
Aku diajak nonton film Korea tadi malam oleh seorang teman (hayo yang ngajak ngaku),lumayan menarik...kayaknya enak diceritain, karena kita lagi diskusiin soal komunisme.
Settingnya sederhana, tentang penghancuran komunisme th 50-an di Korea yang ditatap dengan netra anak-anak, dinamika makro direpresentasikan dari pengalaman mikro. Cerita dimulai dari pengadilan massa terhadap seorang bapak yang masih komunis didesa itu,diceburin/nyebur sumur,diarak dan dihakimi masa,dan sibapak ini lenyap meninggalkan 2 anak (salah satunya anak laki-laki Chang hee berumur 10 tahuan). Cerita-cerita sederhana yang menyentuh diputar, tentang 2 kehidupan kontras, satu kehidupan keluarga komunis tadi yang menderita --lagi-lagi bercerita tentang bagaimana perempuan yang harus menjadi survivor dalam kondisi kritis-- istrinya sampai menjual baju anak-anaknya dan tinggal menyisakan satu baju untuk mereka,bagaimana siibu harus merelakan tubuhnya menjadi pelayan syahwat tentara-tentara UN/US disalah satu rumah kosong penuh lubang yang membuat anak-anak bisa mengintip, termasuk si Chang Hee tadi. Changhee murka, tapi dia anak-anak, dia membakar rumah itu dan dan dia menghilang Sementara dari keluarga antek kapitalis mulai menggeliat perekonomiannya dan satu keluarga yang
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar