Senin, 07 April 2008

Ulang Tahun Tanpa Tanggal Lahir

Leiden, 15 April 2005
Waktu aku kecil,sebagai orang Jawa, ibuku selalu merayakan hari lahirku setiap bulan pas jatuh wetonku (macam rabu-pon, based on kalender jawa yang adiluhung itu). Selalu ada nasi digulung-gulung kecil,urap,bacem,empal..tersaji diatas daun pisang dipola bulat mengikuti besarnya cobek tanah untuk piringnya. Lalu dibagi ke anak-anak tetangga, atau terkadang kita maem kembulan (bersama).Semakin kita bisa nahan pedas urap, pertanda kita akan"tetëh/fasih"nyebut huruf "R" untuk tanda kita sudah sempurna berbicara, tidak cadel lagi.. Ibuku selalu puasa pada hari-hari itu. Jadi merayakan kelahiran dalam kulturku begitu. Terasa dalam banget...

Beberapa hari lalu aku terharu,ada yang ulang tahun,dan mengantarkan kekantorku bacem,urap, telur pindang. Dan kacaunya, aku nggak tahu kalau dia ulangtahun! sampai dia merajuk manja,minta diucapin ulangtahun! ragilnya kelihatan. Tapi aku merasa..jahat sekali aku...Jadi, aku kadang mikir, bisakah aku menyayang sahabat dengan caraku, tanpa harus diukur dengan mengingat digit-digit tanggal ulang tahunnya? mengingat tanggal,adalah mengingat angka. Ulang tahun berurusan dengan angka yang kadang sulit kuingat,karena seperti deretan nomor telephon...Aku sedang ingin membuat baromoter kohesi persahatan dengan cara yang lebih human, yang memaklumi orang bebal angka macam aku....tapi menyimpan bertumpuk rasakasih yang tak mau kuhitung dengan angka-angka itu...

Selamat ulang tahun sobat-sobatku. Love

Tidak ada komentar: