Jumat, 04 April 2008

Cerpen: Kertas Pink Bersaing Dengan Tuhan di Pesantrenku

Cerpen Yuniyanti Chuzaifah

“Solihah, Wiqoyatun,Nur Fadilah, lalu..lalu..lalu...deretan nama dipanggilnya tak berekor seperti Nazi sedang mencacah orang Yahudi dimasukkan ke kamp konsetrasi! Tegas dan pasti! Lalu aku berpindah tanya, “sudah ada yang daftar”?: “Sudah! Ada Azizah, Nokilah, Nur Hikmah,Wawang, Mamah..”

Oh ya itu teman-teman RRT (Republik Rakyat Tegal) alias konsulat Tegal! Yang pertama tadi konsulat Batang Pekalongan. Oh my God! Kapan aku dapat giliran mandi, kalau setiap mandi harus ngantri melompati rantai konsulat yang tak berujung begini? Bahkan yang sudah mandipun didaftar biar tidak ada lubang orang untuk menyelip. Lalu kucari sobat lintas konsulat, teringat Misri, Fatra, Uus, Waty, Dini, Any, Hetty, Bina, Mbak Nina..Alhamdulillah, ada salah satu dari mereka! Lalu aku blussss!! masuk tanpa salam dan mandi berdua atau bertiga..yang penting basah oleh air kuning agak anyir dengan tembok lumut yang melekat dihela nafasku.

Sore itu kupakai Citra lotion yang pada masanya serasa pakai lotion product Van Der Bilt, Nina Richie atau Rituals. Karena Citra si kuning adalah pelopor lotion warna non pink, yang saat itu menyemerbak merasuk ke kulit remajaku yang baru menginjak 12-an. Ini tentang aku yang kecil karena kurang gizi, maklum waktu kecil susah makan dan sakit gigi tak pernah henti. Ini aku yang hitam bersisik kering dan temblong-temblong karena alergi penisilin malpraktek dokter di kulitku, Ini aku yang datang dari sebuah pelosok desa kecil tapi sangat bersurga. Betapa tidak? Ayahku selalu memanggilku Cemening dan menganggap aku princess kecil yang selalu dibanggakannya. Ibuku yang tak pernah verbal bilang mencintaiku tapi rela menaruh kembang di tempat pensilku untuk menghentikan isaknya dan meyakinkan dirinya bahwa aku akan terlindungi oleh kembang magis itu selama aku nyantri. Lalu ada kakekku yang selalu memujaku sejak kecil bahwa aku manis..dan itu belum cukup baginya. Selalu dia tambahkan kalimat sama dan berulang untuk meyakinkan entah siapa: “wong putih dipandeng pisan cukup, wong ireng sak tleraman ra ketok, ning yen dipandeng metu manise”(orang putih kalau dilihat sekali cukup, tapi orang item, dilihat sekilas “nothing” tapi kalau tambah diamati…manisnya akan timbul”). Ya, tenaga cinta mereka membuat aku tumbuh menjadi orang yang sangat percaya diri, merasa teduh dan secure diterima siapapun, dan lupa bahwa aku punya tubuh yang tidak kompetitif ini.

Melanjutkan soreku di teras depan kamar Nusa Indah sambil menikmati gemericik kolam Kunci, aku duduk menanti maghrib. Aku ingat, pakai kaos putih bermotif setengah lingkar meronce sekitar leher, dengan bawahan batik yang kujiplak dari baju Uus dan kujahit di Pak Rapi belakang kelas Kalpataru. Pak Rapi (nggak tahu siapa nama aslinya, karena santri selalu semena-mena panggil orang, seperti Mbak Burjo, Bu Rujak, dll.) pernah rame dikira pergi ke Belanda, gara-gara seorang teman dari Jakarta mengira Blondo bahasa Jawanya Belanda. Padahal pak Rapi pergi ke Blondo dekat Blabak Magelang.

Balik ke aku lagi..aku merasa sore itu punyaku, kuraup semua keceriaan yang melintas. Sambil santai aku diminta kawan menjelaskan soal fiqh, kuajari santai karena Tuhan mengetahui lemah fisikku dan sedikit men-charge otakku. Lalu tiba-tiba konsentrasiku diinterupsi kawan yang mendekat:
Ïni ada surat”.
“Dari siapa?
“Buka aja coba..”, sambil mukanya meledek bikin penasaran.
Dug,dug,dag,dig,..huh, setengah nyawaku seperti ditarik ulur dari pori-pori ubun-ubunku.
“Surat pink! Harum! Bersaing sama lotion citraku”. Lalu aku pura-pura tenang. Kembali kujelaskan Fiqh ke temanku, kukumpulkan semua konsentrasi untuk mentransfer dan menjubelkan penjelasanku agar merangsek cepat masuk ke memori pemahamannya. Cepat! Cepat! Desak tak sabarku! Waktu rasanya ingin kulipat, bukan menit, bukan detik...pokoknya sessi fiqh harus diusai!!

Aku masuk kamar menggegas, mungkin nabrak Marfuáh atau Rugaya Basyarewan NTT yang sering “sedeng” teriak menakutkan, atau aku mungkin juga nginjak kaki Endang kakak Riana Idayanti yang centil seksi dan kegenitannya melebihi usianya. Aku lupa bahwa di sana ada Lily Ahmad gadis Manado yang punya setrika listrik merah, koper kosmetik merah, lemari raksasa di pojok yang merajai asrama,rambut panjangnya dan hobinya yang heboh itu. Aku juga lupa ada Lia, Sumiyati yang hobinya ndeprok berkedippun takut seperti model yang mau dilukis tapi ditinggal tidur pelukisnya berjam-jam. Aku juga menembus pandang Nuri kawan Riau yang kalau main pimpong jago tapi kalau mencibir tujuh windu masih melekat, ingat Meimun yang anggun tapi kalau tidur kayak kincir Angin Belanda, aku juga nggak peduli ada pendampingku Mbak Oti, Mbak Yayah, Mbak Mastoyah..aku lupa..lupa ada mereka di sekelilingku…Aku tak ingat Fatra, karena dia di kamar berdikari, sesekali senyum saat berpapasan.

Aku hanya ingin menyudut, memasukkan kepalaku ke lemari kayu kecil yang dibeli ayah ibuku di pasar Muntilan, aku singkirkan termos kecil yang aku beli di toko Kompliit untuk memberi ruang kepalaku menyelinap untuk membaca surat itu. Kubuka pelan, tapi tak sabar..ada yang tersobek sedikit..wow..berlembar-lembar! Surat tebal…pasti aku tak bisa menyelesaikannya sebelum maghrib..Kubuka, kulihat deretan huruf rapi..kubayangkan surat ini ditulis di sebuah asrama sebrang sana, atau dieja sambil bersembunyi atau menyepi di pinggir kali Pabelan yang penuh bongkahan batu dari perut Merapi itu, atau barangkali nulisnya nyuri-nyuri di kelas saat guru menjelaskan mutholaáh…

Aku lupa kalimat-kalimatnya, tapi puisinya menggila dimasanya. Aku seperti terbang naik Adam Air yang melesat ke atas, lalu nyungsep menghilang ke dasar laut lalu ditarik Tuhan ke langit lalu dipelantingkan ke salju Antartika…...wow! Ini rasanya kali pertama aku dapat surat cinta! Kubuka lembar, lembar, lembar. Ups, Azan mulai menergesa dengan raung syahdunya. Ya, azan yang biasa aku suka, kali ini hampir kumarahi muázinnya karena tak pengertian. Ingin rasanya loudspeakernya aku matikan dan pura-pura tak dengar. Yah, aku menyerah, aku lipat rapat surat ajaib itu, lalu kuletakkan di selipan baju-bajuku.

Sore ini aku “musyrik”, karena “menyekutukan” Sang Dia. Hai Dikau, kali ini Kau punya pesaing, karena rasa aneh yang menghiruk pikuk di dadaku ini. Sekarang bukan Dirimu semata wayang menyemayami totalitasku, karena disaat apel denganMu, mendua yang kurasa. Tapi salah siapa? Aku tak meminta rasa ini, tapi aku menikmatinya! Untung segera ada lagu “Tulil”, begitu Hetty menyebutnya. “Ilahi lastu-lil firdausi ahla, walaa aqwa ala naaril jahiimi”. Syair Abu Nawas yang rintih lirihnya bikin nyawa menunduk: “Tuhan aku tidak layak jadi penghuni Surga Firdaus, tapi aku juga tidak sanggup dengan siksa api neraka”. Syair ini menetralkan musrikku...aku menengadah menikmati temaram sore, membiarkan matahari redup beristirahat, kumanjakan diri melihat daun kelapa menari menjentikkan jari-jari ujung lidinya, kusapa dengan mata ramahku kepak burung terbang di atas kubah masjid itu dan aku biarkan diriku bercengkerama bisu dan hangat dengan penghuni langit di atas sana, bertanya.. Ada apa ini? Ada apa ini?


Selepas maghrib di halaman masjid, saat jamaáh santri pulang, debu juga mengepul seru. Mengaji saatnya! Ketika aku mengambil Qurán, kulirik surat itu lagi, kusentuh pelan untuk meyakinkan diri, ya masih ada aman di sana! Lalu bel makan malam berdentang. Awalnya masing-masing punya piring, tetapi si waktu memakan buas piring-piring itu. Karena kohesi pertemanan juga membuat kami para santri memilih gaya bohemian tak sopan. Kami makan di nampan besar, saling bersenggol dan berebut jari, untung belum pernah terjadi jari teman termakan masuk mulut dikira lauk. Aku makan sama Mbak Wiwik Nurul Azmi, Mbak Elok Andini yang layak jadi Indonesian idol, Sarmi Mulyono yang berbibir atas khas, dan pernah juga sama Mbak Lily (begitu aku panggil dia waktu itu, karena sopanku dan karena kecilku, sampai semua aku panggil mbak. Ada Mbak Meimun, Mbak Ida..Mbak Iánah, Mbak Nina, kabeh mbak!.). Aku tawarkan sambal buatan ibuku dari kampung, lalu Mbak Lily mengeluarkan sambal ikan roa yang bikin dua puluh tahun tak lupa—pedas, kering dan mengesan. Sampai-sampai waktu aku ke Manado, aku borong di salah] satu toko di airport menjelang pesawat sudah mulai siap menggeliat. Sayang tinggal 4 dan kecil-kecil! Untung aku sudah sibuk bertanya bagaimana cara membuatnya sama teman-teman, katanya pakai kacang kawangkoa segala! Ah, aku kangen sejarahnya…aku tak ingin memasaknya, aku mau rasa yang sama!

Habis makan malam, sholat isya’berjamaah di kamar yang berpenghuni 40-an orang itu. Berdesakan dan seru. Lalu setelah jamaáh selesai, satu orang maju, seperti sedang pelatihan satpam! Yang di depan itu mbengok (teriak) dan yang duduk bareng-bareng ngikutin kayak bikin yell! Sedang apa mereka? Yah, kami sedang menghafalkan mufrodat/vocab yang kami cicil tiap hari dua kata, bahasa Arab dan bahasa Inggris. Otot leher sampai mengeras seperti besi 1 inci dan peluh keringat mencucur cukup cepat bikin mukena bau. Semua demi 2 kata yang aku sudah hafal sejak 2 kali disebut tadi, tapi dipaksa puluhan kali! Sampai kadang aku pura-pura buka mulut ikut tapi nggak bersuara menipu. Uh, kapan selesai mufrodat ini? Yah..di Pesantren ini semua orang diterima, yang hafal satu kata dalam seminggu juga akan hepi di situ. Awalnya aku merasa ini sekolah macam apa? Belakangan pas banyak baca buku pendidikan baru tahu, bahwa tanaman hebat akan bagus apabila disemai di lahan subur dan berdekatan dengan aneka tanaman yang rendah maupun besar ketimbang monokultur! Belakangan aku tambah berdecak untuk kyai dan pesantrenku, setelah ratusan decak lain bermunculan, sayang tak tersusun menjadi melodi natural.

Habis mufrodat, rantai ritual wajib masih panjang! Kami semua wajib belajar. Suasana seru! pada centang-perenang memilih tempat belajar sendiri-sendiri. Ada yang di atas tumpukan kasur, ada yang di dalam lemari, ada yang di pinggir kolam kunci, ada yang di teras sambil lihat santri putra melenggang. Ada juga yang bawa tikar, bantal, lilin kayak orang mau piknik dan camping seminggu, lengkap dengan snack seabreg, bahkan tak ketinggalan selondok yang bikin gemeretak gigi. Dalam hati, pasti bekal banyak begini akan hebat belajarnya! Pas iseng aku tengok dia, rasanya tak sampai 30 menit, dia sudah lelap tidur deket kelas Waru, ditemani lilin yang melumer bosan dan buku yang menganga terlantar. Nyamuk menggigitpun dikira cubitan kecil sukaannya. Lalu ada temenku Baroroh yang sulit tertaklukkan prestasinya, karena kalau menghafal sampai mendelik, bola hitam matanya hilang...sampai aku ketakutan kalau nggak balik. Lalu ada Marfuah (lagi) yang belajarnya di depan kaca, bawa sisir, mlintir –mlintir rambut dan gibag-gibig kepala melulu, sampai bikin aku bingung. Tapi dia cerdas kalau bernyanyi. Setiap kita bilang “dimana ya sajadah”..dia akan nyahut dengan lagu yang ada kata “di mana”. Pokoknya soal lagu dia boleh bersaing sama Nia Daniaty atau Iis Sugianto. Baroroh kalah!

Lalu kapan surat pinkyku kubaca? Dia masih menggeletak di sana ...aku takut ketahuan pendampingku, katanya akan disita..Ah, mahal kalau surat bersejarah itu terampas dan tak akan sempat kubaca. Tapi masak pendamping sejahat itu? Kami pernah protes dengan lagu yang bikin para pendamping marah. Syairnya masih mengiang sampai sekarang “mbak pendamping juga jatuh cinta, apalagi anak buahnya...jatuh cinta...karena panah asmara!!

Huh...indah dunia. Santri juga bisa jatuh cinta, santri juga manusia, santri juga punya usia. Kenapa “kealiman” diartikan harus beku terbekam dan teredam? Terima kasih Tuhan, cintaMu telah aku nikmati, melalui surat pink Kau ingin bilang, cintai Aku seperti getar rasa ketika pinky itu datang. Ya..si pinky bukan PINGI! Pak tukang kekar, yang kelelakiannya tak diaku karena bisu itu...Oh Pinky and Pingi..Sejarahku, sejarah kami santri putri terekam aman di memorimu.

Leiden, 25 Maret 2008.
Menara Witte Rozen straat 44.

Tidak ada komentar: