Kamis, 10 April 2008

Film "Fitna" Wilders Geerd

Belanda dan Freedom Expression

Menjelang film Fitna mau dilounching, KBRI Belanda mengeluarkan surat edaran kepada masyarakat Indonesia untuk tenang. Belum kebayang filmnya macam apa. Ini lontaran kecil jadi bahan diskusi dengan temen-temen.

"Kalau aku jadi penyelenggara negara mungkin juga akan bersikap seperti pemerintah Belanda saat ini, yang memberi kebebasan semua pihak untuk berekspresi. Ini bagian dari pendewasaan publik. Seperti masa lampau, terlepas bahwa kolonialisme itu tidak manusiawi, tapi jaman kolonial dulu kan mereka tidak pernah membredel penerbitan/media, yang dicomot pemrednya aja. Aku pikir itu cara berfikir yang cukup demokratis.

Bisa jadi aku atau orang lain juga akan tidak suka dengan film itu..tapi mengkastrasi orang berkarya kan juga tidak bijak. Ada info menarik, di Jakarta ada satu lembaga yang menggunakan kata pluralisme untuk institusinya, lalu sekarang mau menghilangkan term itu gara-gara alasan "taktis" menghadapi gerakan Islamist. Aku tidak setuju banget... menurut aku, biarkan orang dilatih berdemokrasi , tidak gampang phobi dengan aneka term dari barat atau ideologi sekular bahkan kritik apapun yang "mengancam". Analoginya ketika orang Arab biasa melihat semua terbungkus, begitu melihat betis dikit saja sudah kacau, tapi orang Papua biasa melihat orang cuma pakai koteka atau perempuan terlihat alat-alat reproduksi (yang menurut standard kultur lain itu aurat), tapi mereka biasa-biasa saja. Jaman dulu orang pantai lebih maju (ketika teknologi transportasi baru darat dan air), karena mereka terbiasa dikecoh dengan budaya baru...kesadaran bertoleransinya lebih terbuka...Ini refleksi orang pedalaman (orang Solo kan pedalaman, Maret 2008)

Marah di Fitnah dan Boykot Produk Belanda

Setelah film Fitna beredar, resistensi komunitas Islam menjadi-jadi bahkan akan ada ancaman boikot terhadap produk belanda, komentar iseng dalam diskusi; apakah bank ABN Amro diboikot, alumni Belanda juga? Lalu kartu telfort penyambung cintaku sama keluargaku juga mau diboikot? Lalu aku iseng berkomentar soal betapa rumitnya kalau boykot itu harus terjadi, terutama penggunaan bahasa belanda yang sudah mengindonesia:

"Bilang sama pemboikot gak boleh lewat jalur Daendels nadi Jakarta-Jatim, lalu jangan naik kereta (jalur spoor kebanyakan kan warisan Belanda), gak boleh masuk kantor, pake handuk-seprei, asbak, gak boleh tidur di kamer (balik pake kata senthong! Jawa he..he..), apa lagi ya..katanya ada 5000 kata Belanda dipake di Indonesia dan 500 kata Indonesia dipakai disini! Jadi nanti kalau ngomong, saya mandi pake anu (handuk), tidur diatas anu (seprei), habis itu masuk anu (kantor). Nah lo!!"2 April 08

You tube di blokkir dan Sedihnya jadi orang Islam

Diskusi masih seru, karena youtube di blokkir di Indonesia...

"Untung aku sempet nonton, dan sebagai karya cinematografi, jelek banget ya! Propagandis, sadis dan nafsu banget mbuatnya...soal isi, kita udah diskusi banyak, soal Islamnya jadi kaya victimisasi massal terhadap kelompok tertentu. Kalau ada victimisasi thd gender, orang udah mulai pada simpatik. Victimisasi pada ras/etnik, orang sensitif dan berteriak, victimisasi thd alam juga orang berfikir ini harus jadi kepedulian bersama. Tapi victimisasi terhadap kelompok agama ini pelik juga. Aku sendiri Kesal kalau dilihat Islam satu wajah, direpresentasi dan disimplifikasi dengan kelompok haus darah (padahal lht darah aja mau pingsan). Tapi kadang juga gemes, kalau lihat pagi hari di Central Station, yang sibuk mengejar kereta, kerja kok orang-orang yang berwajah Eropa. Wajah timur tengah dalam hal ini Marokko tidak kelihatan ikut sibuk (mungkin mereka wiraswasta dan tak berurusan dengan kereta), atau mereka tidak berjilbab sehingga kelihatan mereka sama dan tak terlihat. Aku penasaran, ada nggak data orang migran ini seberapa jauh nyerap pajak dan juga sebaliknya, kontribusi mereka thd perekonomian belanda kayak apa? " (6 April 08)

Tidak ada komentar: