Bukan tutur si-aku semata
Tutur resah jutaan hati..
Ini tentang kesah yang tak terdesah
Tentang masa disuatu rumah dengan lentera bersahaja
Hanya ditemani jagung rebus dan pisang bakar gosong
Yang dibagi kecil kecil untuk melengkapi cengkerama hangat.
Ditengah semburat lampu minyak kecil
Berusaha saling bertatap,
Mengikhlas menyelam nurani
Berkeras memeluk hati
Dan berketat merantai nyawa bersama
Tapi kini
Ketika gegar teknologi menyeruap
Manusia bangga dan riang
Karena list pengatrol status sudah mengantri
Ada komputer, ada VCD, ada TV provider, ada laptop, i-pod atau apapun..
Semakin kita kaya dan sok kaya..
Semakin banyak kotak-kotak berlayar mengitari kita
Lalu mengejar dimanapun kita ada....
Dirumah....
Semua tercentang perentang asik bertatap dengan benda kotak
Ruang-ruang menjadi tersekat, terpisah !
Berbangga berkoar sering mesra bersama, duduk rapi didepan TV..
Tapi mata kedepan...pikiran ke layar, jari ke remote
Tidak saling bicara, tidak saling memeluk..tidak saling mengusap..
Tidak ada pertanyaan apakah masing-masing kita sedang gelisah?
Apakah kita punya sepercik senang untuk dibagi bersama?
Apakah lecet gores di lengan anak sudah kering?
Apakah bekal sekolah hari ini dibagi bersuap dengan teman-teman?
Barisan raga terkumpul kalau ada acara menarik
Begitu ganti acara, bertubrukan rasa,bubar byarrrrr !!
Dunia menjadi masing-masing lagi..
Satu jam terlalu lama untuk bersama!
Ruang TV menjadi sudut istimewa tempat janjian para tengkorak diam berbaris
Lirihku..."itu tidak bernyawa! itu tidak bersama!!!"
Lalu...
Ada HP dengan ratusan tipe yang mengabdi apa yang kita mau!
Deretan nama siap dihadirkan...
Ada yang dibiarkan, ada yang disamarkan, ada yang cukup dihafalkan...
Ada yang nada ringnya dibikin gradasi, memastikan dering mudah atau tak terdeteksi
Bertukar hati lewat kata yang dihantar udara
Mengirim asmara bahkan mani semudah gagak berbirahi
Kekasih bukan lagi yang diikrar dan mengundangkan Tuhan
Bukan lagi yang diperjuangkan diatas kertas dalam arsip KUA atau gereja
Bukan lagi yang dulu dijanji akan berpeluk mati
Bukan lagi yang terkapar melahirkan buah cinta
Bukan lagi....
Si-Maya menjadi segalanya...
Ada Email dengan pasword yang dibuat bermacam account untuk gudang rahasia
Ada web photo dengan password untuk menyimpan gambar manusia-manusia yang harus tersembunyi.
Album kusam bertumpuk di lemari tua...
Yang rapi tersusun menyejarah itu, sudah tak menarik lagi...
Lunglai kalah tak sanggup bersaing dengan album web atau blog...
Ya..ada blog!
Blog kini menjadi galeri atau almari!
Melenakan, mengasikkan, sesekali membosankan...
Bahkan bikin nafsu narcis menjadi-jadi
Dulu menulis harus diedit manusia dengan kepala yang berbeda
Sekarang kita jadi tuan dari tulisan kita sendiri
Si Anto cleaning service di Makro-pun juga punya blog
Tulisannya bagus dan reflektif, jadi jurnalis tanpa lelah bersekolah.
Blog meretas kelas! menyobek tabir, mengkudeta penguasa aksara!
Dulu butuh kwintalan kertas yang membabat hutan untuk menghantar pesan kita
Sekarang lewat klik..klik..klik..cukup instan dan pasti!
Dengan klik cuilan nama kita..
Jutaan orang dinegeri Ali Baba langsung tahu siapa kita
Dengan sekali klik...puluhan tahun terkubur namanya..
Menjadi hidup dan dihidupkan lagi..
Pernah temanku dikira mati, oleh teknologi dia hidup kembali!
Kutepuk pipiku
Memastikan apakah nyawaku masih menyetubuiku
Masih! Masih!
Tapi si Maya lebih cepat berlari..
Dibanding hati dan pikirmu yang rumit berbelit nama ndeso si Nurani
Dirimu hanya akan jadi tontonan
Seperti komedi murah dipasar burung di Gunungkidul..
Aku rindu dan ingin balik nama menjadi Wagiyem, Suminem atau apa...
Aku ingin memotek jagung dan mengupas ketela sambil tukar bicara dengan tatap mata
Aku ingin menghangat didekat bakaran sampah daun dipagi hari..
Menanti pisang bakarku matang, dikupaskan..ditiup dan disuapi...
Aku ingin mendepis dibalik sarung, melihat wayang tangan bayangan didinding bolong-bolong.....
Sambil mendengar dongeng jenaka dari suara sang nabi...
Leiden, 11 April 08
7 komentar:
Mbak Yuni...satu hal, sama-sama gelisah!!!Tulisannya great, semosinya juga ketangkap dengan baik.Thanks ya..jadi membuat ikut termenung,padahal harus nulis thesis juga
2008 April 13 06:47
Wow...aku kagum banget dengan coretanmu Mbak Yuni..
sebuah paradox ttg teknologi yang sangat menarik
itulah, kita akan selalu mengalami siklus terus menerus
Suatu masa kita sangat merindukan bulan, esok lusa ketika bulan sudah dipangkuan,ternyata tidak seindah yang kita bayangkan..
Makasih sudah berbagi refleksi ttg rentannya kehidupan; sepertinya nyaris saja kita tidak lagi menjadi penguasa bagi hidup kita sendiri
Love,
Puisinya bagus juga. Ik membacanya sambil membatin. Kenapa tidak dimuat di Gg Jambu atau di Angera? Biar banyak orang bisa baca.
Kok melankolis ya sekarang? Orang yg penampakan fisiknya gembira sering juga rapuh. Kali ini karena
sudah intens di balik layar kompu. Bahaya bagi orang yg suka gembira kayak dirimu... Sebaliknya orang yang murung melihat dunia (kayak aku) sering tahan banting juga...
wah wah...kalo galau bangetnya mbakyuku siji iki seperti ini
lalu kalo nggak galau jadinya seperti apa yah?
Te O Pe Be Ge Te...
sangat reflektif, sangat menyentuh, jadi kena banget deh...
tapi kalo pas kita kumpul bareng kan nggak gitu to mbak?
mesti rame banget ngobrol ngalor ngidul sambil ngopi atawa makan sotone mbak Yuni.. hehe
kangen sotomu mbak!
keren kok mba yuni!!
aku bangga padamu.. hehehehe..
hm, jadi pengen balik ke indo, makan indomie rebus di warung pak samidi dekat kaki gunung pangrango..
mandi di bawah air terjun plus mantabz..
kemping dengan api unggun, ckckckkckck! !
bagus mbak ... jadi sedih bacanya
:(
Yun aku udah baca puisinya, Oke banget, Keren!
Yun, kau banyak punya bakat, multi talenta!
sementara aku tak punya bakat apa2 nih, piye?
Posting Komentar